![]() |
2
PRAKATA
Sebagai awalan, saya ingin ucapkan terima kasih sudah mendownload ebook ini. Kalau sudah
didownload, tidak afdol jika ebook ini tidak lanjut dibaca. Setuju ya??
Nah, sebelum Anda membaca ebook ini, perkenankan saya memperkenalkan diri dulu ya.
Katanya kan, tak kenal, maka taaruf. Hehe
Nama saya Eko Adityo Nugroho. Saat ini saya masih menjadi kuli tinta di salah satu media cetak
di Ibu Kota, sambil aktif membuat content marketing, copywriter, dan senang berselancar di
media sosial Facebook
Anda bisa mengunjungi akun Facebook saya di https://www.facebook.com/ekoadityo.nugroho
atau di WhatsApp 08128926316 dan Telegram di @ekoadityonugroho.
Selain itu, saya saat ini juga diamanahi untuk membersamai komunitas bisnis online divisi herbal
di Muslim Entrepreneur University Indonesia Herba (MEUHerba). Silakan bisa cek di
meuherba.id untuk produk yang kami pasarkan.
Begitu ya perkenalan singkatnya. Semoga nanti kita bisa saling bekerja sama dan menambah
silaturahim kita.
Sekarang Silakan Anda lanjutkan membaca ebooknya ya.
Siap?
3
Apa yang akan saya dapat saat membaca ebook ini??
Mungkin begitu dalam benak Anda. Itu wajar karena bisa jadi Anda punya harapan terhadap
ebook ini. Entah itu akan menggugah Anda untuk memulai berbisnis, ingin melihat potensi suatu
bisnis, ataupun memang ada tujuan lain yang tentu saja tidak saya ketahui.
Begini...
Melalui ebook ini, saya harap, Anda tidak menggantungkan harapan terlalu tinggi dan besar.
Pasalnya, apa yang ditulis di dalam buku elektronik ini hanyalah pandangan saya, yang masih
terbatas soal bisnis dan kesehatan.
Maka dari itu, alangkah bijaksananya jika Anda juga mencari referensi dari sumber lainnya agar
makin memberikan pemahaman Anda lebih luas soal bisnis dan kesehatan.
Meskipun demikian, saya berusaha agar apa yang saya tulis dalam ebook ini bisa menambah
wawasan dan pemahaman Anda. Syukur-syukur Anda bisa tergerak untuk berbisnis di bidang
kesehatan.
Dengan begitu, saya berharap Anda bisa mendapatkan sebuah INSIGHT baru bahwa sejatinya
bisnis di bidang kesehatan, itu menjanjikan.
Oh iya...
Bisnis di bidang kesehatan itu cukup luas dan beragam. Pendirian sebuah rumah sakit, klinik, dan
apotek hingga pusat kebugaran, serta penyediaan alat-alat kesehatan merupakan salah satu bisnis
di bidang kesehatan itu.
Dalam ebook ini, bisnis seperti itu tidak saya bahas. Selain karena cakupannya terlalu luas dan
membutuhkan modal yang tidak sedikit, juga kurang dapat menjangkau banyak orang yang
memang mau berbisnis di bidang kesehatan.
Nah, yang ingin saya tulis dan bagikan kepada Anda, adalah potensi bisnis kesehatan yang bisa
dilakukan oleh siapa pun, mulai dari anak remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, dan orang dewasa
lainnya.
Bahkan, melakukan bisnis ini tidak harus menyewa tempat dan butuh modal besar. Anda bisa
melakukannya di dalam rumah sambil mengasuh anak Anda, memakai daster, ataupun sarungan
saja.
Itu karena menjalankan bisnis ini hanya membutuhkan kuota data internet. Dalam arti, dilakukan
secara online—meski bisa juga dilakukan secara offline—sehingga mudah untuk dijalankan.
Begitu ya, sedikit gambaran di bagian pembuka.
Sekarang silakan Anda lanjutkan membaca ebook ini
5
Antara Ide Bisnis dan Action
Saya teringat ucapan seorang motivator sekaligus pebisnis. Apa yang dia ucapkan? Ini dia.
"Bisnis yang baik adalah
bisnis yang dijalankan."
Artinya, bisnis itu memang harus dilakukan, dijalankan, dan di-action-kan.
Bisnis tidak ada akan menghasilkan apa-apa jika tidak direalisasikan dalam suatu perbuatan.
Akan jadi percuma jika bisnis hanya dibicarakan, cuma sebatas ide di kertas tanpa perbuatan.
Ini bukan berarti ide dan gagasan dalam berbisnis itu tak penting.
6
Ide, strategi, target, maupun rencana yang digoreskan dalam secarik kertas juga penting sebagai
dasar untuk bertindak demi mencapai goal suatu bisnis.
Sekarang bayangkan...
Si A sudah punya produk dengan potensi keuntungan yang tinggi, katakanlah sebesar 30% dari
tiap produk, lalu dia berencana mempromosikannya melalui internet.
Namun, karena A merasa gaptek, tidak tahu teknologi, belum tahu ilmu jualan, akhirnya dia
menunda rencana tersebut entah sampai kapan.
Lantas apakah dia akan mendapatkan keuntungan dari produk yang dia jual?
Tentu saja A tidak akan dapat keinginannya.
Bandingkan dengan si B yang langsung jual produknya tidak melalui internet, melainkan dengan
cara berkeliling dengan menjajakan produknya.
Apakah B akan mendapatkan keuntungan?
Tentu B akan dapat, karena dia langsung bertindak dengan berkeliling.
7
Nah, contoh B ini banyak kita jumpai di sekitar tempat tinggal. Contoh konkretnya adalah para
penjual nasi goreng, bakso, mie ayam, ketoprak, tukang sayur, dan sebagainya.
Jadi...
Semua bisnis, tak terkecuali bisnis secara offline ataupun online, memang harus dijalani,
dilakukan, dan di-action-kan. Tanpa itu, mustahil bisnis mendatangkan pendapatan.
8
Jeli Melihat Peluang
Namun begitu, untuk menjalankan bisnis pun, kita mesti cermat melihat peluang yang ada. Dalam
artian, ada pasar potensial yang akan membeli produk ataupun jasa yang kita pasarkan.
Umumnya, peluang bisnis itu tidak jauh-jauh dari hal pangan dan sandang. Itu merupakan
kebutuhan pokok semua manusia.
Bisnis di bidang pangan yang bisa dilakukan di antaranya bisnis kuliner, mulai dari makanan
ataupun minuman, baik dijajakan di pinggir jalan, keliling ataupun dalam bentuk rumah makan
atau restoran, hingga online.
Selain itu, bisnis fashion berupa pakaian dengan berbagai jenis, ukuran, kegunaan, fungsi, bahan,
dan aksesoris-aksesoris lainnya. Pasarnya pun cukup luas mulai dari bayi hingga orang lanjut
usia.
Bisnis di kedua kebutuhan pokok tersebut dijamin akan memberikan pendapatan yang tidak
sedikit. Itu karena pasarnya luas lantaran seluruh manusia membutuhkan baik dari yang masih
kecil hingga lanjut usia. Selain itu, proses pembelian kembali atau repeat order-nya juga
menjanjikan.
9
Lalu bagaimana dengan bisnis kesehatan?
Di antara banyaknya jenis bisnis yang ada, sektor kesehatan bisa dibilang menjadi bisnis yang
bisa bertahan lama. Malah bisa dikatakan bisnis ini Tahan Krisis.
Pasar dari bisnis ini hampir tak ada matinya. Pasalnya, kebutuhan akan hidup sehat sudah
menjadi kebutuhan pokok manusia.
Bagi manusia normal, kesehatan adalah hal terpenting. Nah, selama anggapan ini masih berlaku,
bisnis kesehatan bakal tumbuh subur. Potensi bisnis kesehatan pun tak bakal padam.
10
"Selama orang sakit ingin sehat dan
orang sehat ingin tetap bugar,
prospek bisnis kesehatan tetap cerah."
Soalnya, tak cuma orang sakit yang menjadi pangsa pasar bisnis kesehatan. Orang sehat pun
membutuhkan jasa kesehatan agar stamina tetap terjaga.
Itu artinya, sekitar 260 juta jiwa penduduk Indonesia bisa jadi target bisnis kesehatan.
Nah, sekarang ini, ada kecenderungan bahwa Hidup Sehat sebagai bagian dari Gaya Hidup
trennya semakin meningkat.
Lihat saja, masyarakat yang berusia produktif sekitar 37-55 tahun,
mereka ingin lebih sehat (feel healthier),
memperbaiki penampilan (look better),
memperlambat penuaan (slow down aging), dan
ingin mencegah berbagai macam penyakit (prevent diseases).
Intinya mereka ingin merawat kesehatannya, mereka tidak rela penyakit mencuri usia
produktifnya.
Fenomena di atas, bila dilihat dari kacamata peluang bisnis, tentu sangat memberi pengharapan.
Ini artinya, kesehatan bukan hanya sekadar kebutuhan pokok. Namun, lebih dari itu, yakni
sebagai bagian yang tak bisa terpisahkan dari setiap aktivitas manusia. Dengan kata lain,
kesehatan sudah menjadi gaya hidup modern.
Ngomong-ngomong soal gaya hidup modern, perilaku manusia zaman sekarang pun sudah
mengarah ke sana.
Di satu sisi hidup modern memudahkan kita. Namun, di sisi lain muncul fenomena serba cepat,
ringkas, dan instan. Karena itu, ritme pekerjaan pun makin cepat, sehingga bisa meningkatkan
faktor stres seseorang.
Perubahan gaya hidup juga membuat pola makan pun ikut berubah. Maka tak heran, banyak
bermunculan makanan cepat saji, yang terkadang kurang menyehatkan badan.
Belum lagi kondisi polusi semakin tinggi. Hasilnya? Beragam penyakit kini ditemui. Malah,
11
cenderung muncul penyakit baru.
Fenomena ini, tanpa bisa dipungkiri akan menjadikan bisnis di jalur ini semakin booming.
Nah, dengan kondisi-kondisi di atas, serta kian sadarnya masyarakat terhadap
kesehatan, termasuk memahami bahwa biaya berobat tidak murah, dan mengerti bahwa lebih
baik mencegah daripada mengobati...
Maka, itu bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk berbisnis.
Terserah Anda untuk memilih bisnis kesehatan seperti apa, termasuk jenis produk bisnis yang
akan dipilih. Asalkan dijalankan secara profesional dan terbimbing dari sisi syar’i, tidak menjadi
masalah.
12
MULAI DARI NOL
Berbisnis pun tidak harus dimulai dari yang besar. Justru, berbisnis itu disarankan dimulai dari
hal-hal kecil, bahkan bisa dari nol sekalipun. Nol di sisi maksudnya adalah modal.
Biasanya orang terbentur masalah ini, sehingga urung untuk mulai berbisnis. Right?
Jika Anda memang tidak memiliki modal yang cukup untuk berbisnis kesehatan dengan
membangun rumah sakit, maka buka bisnis yang lebih mudah, dan sesuai dengan kemampuan
dan keahlian Anda.
Anda juga tidak harus buka klinik, apotek, ataupun pusat kebugaran apabila tidak memiliki modal
yang besar.
Perlu dipahami bahwa modal untuk berbisnis tidak harus dengan uang. Bisa dengan kemampuan,
keahlian, dan keterampilan yang dimiliki.
Lalu bagaimana bisnis di bidang kesehatan tanpa modal besar???
Seorang motivator bilang, apa yang kita miliki saat ini adalah MODAL BERHARGA.
Coba cek apa yang Anda miliki saat ini???
Yang jelas DIRI ANDA adalah modal Anda untuk mulai berbisnis.
Anda hanya perlu punya kemauan untuk belajar, berkembang, dan maju. Itu sudah
menjadi modal awal untuk berbisnis.
Kita ketahui bersama, di zaman milenial seperti ini, banyak orang yang sudah memiliki
Handphone ataupun Telepon Seluler yang terkoneksi langsung dengan Internet.
13
Itu juga bisa dijadikan modal Anda untuk berbisnis kesehatan.
Jadi, tanpa harus buat rumah sakit, klinik, ataupun apotek, Anda sebenarnya sudah punya peluang
berbisnis kesehatan.
Sampai sini ada bayangan???
14
MUDAH DAN MURAH
Kita lanjut ya...
Berbisnis kesehatan yang mudah dan murah, tanpa harus memiliki apotek, klinik,
rumah sakit, bisa Anda lakukan dalam gengaman Anda.
Anda hanya perlu menyediakan produk-produk kesehatan seperti jenis obat-obatan, makanan-
minuman (nutrisi), alat kesehatan hingga produk jasa.
Menjual produk kesehatan di jalur alternatif pun bisa jadi pilihan. Misal, menyediakan obat-
obatan tradisional, semacam jamu-jamuan atau herbal.
Ada indikasi, potensi bisnis ini semakin menunjukkan tren yang positif. Ketika pengobatan yang
selama ini (modern) semakin tak terjangkau secara ekonomis, pengobatan tradisional seakan-akan
menjadi alternatif yang sangat pas. Pas khasiat obatnya sekaligus pas duitnya.
Artinya, dari sisi biaya tidak semahal dari pengobatan secara modern. Namun, kemujaraban
obatnya tak kalah ampuh untuk mengobati penyakit.
Nah, dengan makin mudahnya orang untuk membeli sesuatu dari telepon seluler, itu merupakan
kemudahan bagi Anda untuk berbisnis. Begitu juga di bisnis kesehatan.
Anda bisa menjadi reseller dari produk-produk kesehatan tersebut dan menjualnya secara
online.
Anda bisa jual melalui Marketplace, posting di media sosial, seperti Facebook maupun Instagram,
dan WhatsApp.
Dengan menjadi reseller, Anda tidak perlu pusing pusing harus bikin produk, terus
memasarkannya, lanjut ke bungkus dan pengiriman. Ngurus itu aja udah bikin pusing. Iya kan?
Makanya kalau tidak mau ribet seperti itu, biarkanlah produsen fokus dengan produknya, dan
Anda fokus untuk memasarkannya dengan mencari reseller.
Ini keuntunganya menjadi reseller suatu produk.
15
Pertama, modal minim.
Umumnya suplier hanya akan meminta membeli satu produk oleh calon reseller.
Tujuannya agar reseller ini paham jenis, bahan, manfaat, maupun kelebihan dari produk yang
akan dipasarkan.
Namun, ada juga suplier yang tidak mengharuskan membeli produk yang dijual. Nah, di sini
tinggal modal kepercayaan saja antara reseller dan suplier. Enak kan?
16
Kedua, ada bimbingan.
Suplier yang bagus biasanya memberikan bimbingan, arahan, bahkan pelatihan secara gratis
kepada jaringan resellernya. Bahkan cara mencari pembeli juga diajarkan.
Mengapa ini dilakukan?
Tentu agar resellernya dapat menjual produk yang dipasarkan. Kalau sudah ada hal semacam ini,
reseller tinggal mempraktekkan saja. Jualan pun jadi mudah dan gak perlu bakat kan?
Ketiga, Jadi reseller itu tidak repot.
Semua proses bisnis dari membuat produk, mengemas, hingga pengiriman tidak dilakukan oleh
reseller. Itu semua dilakukan oleh suplier ataupun produsen.
Bahkan, reseller itu tidak perlu juga stok barang sebelum dijual. Ini tentu mengurangi risiko
reseller jika barang tidak laku.
Di sini reseller hanya bertugas memasarkan, mempromosikan, dan menjual produk. Sedangkan
proses pengemasan hingga pengiriman dilakuan suplier.
Makin gampang kan tuk mulai bisnis?
Keempat, keuntungan besar.
Meski jadi reseller, bukan berarti untungnya kecil. Banyak kok suplier yang memberikan
keuntungan 10% hingga 40% dari harga jual.
Jadi, bukan tidak mungkin kalau reseller itu dapat menjadi jutawan. Bahkan, banyak yang
memiliki penghasilan Delapan Digit per bulan hanya dari reseller.
Nah, sebagai penutup...
Saya hanya ingatkan,
bahwa bisnis yang baik itu bukan sekadar ide di kertas, melainkan harus dijalankan dengan penuh
perhitungan.
Berbisnislah di pasar yang memiliki jangkauan luas, tak ada matinya, dan
17
dibutuhkan banyak orang.
Salah satu jalan bisnis yang potensial adalah kesehatan, karena memiliki faktor-faktor tersebut.
Sekarang, saya kembalikan kepada Anda, siapkah berbisnis di pasar yang amat luas ini????
Silakan dijawab.
Akhirul kalam, terima kasih sudah membaca ebook ini. Semoga Anda mendapatkan Insight baru
mengenai potensi bisnis ini.
Tabik
Salam Takzim
EKO ADITYO NUGROHO







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tq, sukses buat anda